Berita  

Gabungan Mahasiswa dan Pemuda Sanarkisme Menolak Provokasi Isu “September Hitam”

Jakarta – Gabungan mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Serikat Nasional Rakyat Kesejahteraan Indonesia Merdeka (Sanarkisme) menyampaikan sikap menolak segala bentuk provokasi yang berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, termasuk seruan atau narasi yang berkembang dengan istilah “September Hitam”.

Pengurus Sanarkisme, Ahmad Murtado, mengatakan bahwa mahasiswa dan pemuda memiliki hak untuk menyampaikan pendapat serta melakukan kritik terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Namun, penyampaian aspirasi tersebut harus dilakukan secara tertib, damai, dan bertanggung jawab.

“Kami menghormati hak setiap warga negara, khususnya mahasiswa dan pemuda, untuk menyampaikan aspirasi. Tetapi kami mengimbau agar jangan mudah terprovokasi oleh isu atau seruan yang belum jelas sumber maupun tujuannya,” ujar Ahmad Murtado.

Menurut Ahmad, berbagai informasi yang beredar melalui media sosial perlu disikapi secara kritis. Mahasiswa dan pemuda, kata dia, harus mampu membedakan antara informasi faktual, opini, dan informasi yang belum terverifikasi agar tidak ikut menyebarkan kabar yang dapat menimbulkan keresahan.

“Jangan sampai karena menerima informasi dari media sosial kemudian langsung percaya dan menyebarkannya. Kita harus mengecek sumbernya terlebih dahulu dan melihat konteks persoalannya secara utuh,” katanya.

Ahmad menilai penyampaian kritik terhadap pemerintah maupun institusi negara merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Namun demikian, kritik sebaiknya diarahkan pada persoalan yang konkret dan disampaikan melalui cara-cara yang tidak menimbulkan gangguan terhadap ketertiban maupun aktivitas masyarakat.

Sanarkisme juga mengingatkan agar istilah “September Hitam” tidak dijadikan alasan untuk melakukan tindakan yang bersifat provokatif. Menurut Ahmad, setiap seruan yang mengajak masyarakat turun ke jalan harus disikapi dengan mempertimbangkan tujuan, bentuk kegiatan, serta konsekuensi terhadap masyarakat umum.

“Kami menolak kalau ada pihak yang mencoba memanfaatkan momentum September untuk memprovokasi mahasiswa dan pemuda agar melakukan tindakan yang dapat berujung pada kericuhan. Kalau ada aspirasi, sampaikan secara damai dan sesuai aturan,” tegas Ahmad.

Lebih lanjut, Ahmad mengajak organisasi mahasiswa dan kepemudaan untuk mengedepankan dialog serta kajian dalam menyikapi berbagai persoalan sosial, ekonomi, hukum, dan kebangsaan. Menurutnya, perbedaan pandangan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling melakukan provokasi.

“Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan sampai perbedaan itu memecah persatuan. Mahasiswa dan pemuda harus mampu menjadi kelompok yang kritis sekaligus bertanggung jawab,” ungkapnya.

Sanarkisme juga mendorong kalangan mahasiswa untuk menggunakan ruang-ruang demokrasi secara konstruktif. Penyampaian aspirasi dapat dilakukan melalui diskusi publik, kajian akademis, audiensi, maupun aksi demonstrasi yang berlangsung secara tertib dan tetap menghormati hak masyarakat lainnya.

Ahmad menambahkan bahwa para peserta aksi juga perlu memperhatikan kepentingan masyarakat yang tidak terlibat dalam kegiatan penyampaian aspirasi. Pengguna jalan, pelaku usaha, pekerja, dan masyarakat umum diharapkan tidak menjadi pihak yang dirugikan akibat kegiatan demonstrasi.

“Kami berharap siapa pun yang menyampaikan aspirasi tetap menjaga ketertiban, tidak melakukan kekerasan, tidak merusak fasilitas umum, dan menghormati masyarakat. Dengan begitu, pesan yang disampaikan justru akan lebih mudah diterima,” jelas Ahmad.

Di tengah derasnya arus informasi, Sanarkisme mengajak mahasiswa dan pemuda meningkatkan literasi digital serta tidak mudah menerima informasi yang bersifat provokatif. Setiap ajakan maupun narasi yang beredar perlu diverifikasi terlebih dahulu sebelum dipercaya atau disebarluaskan kepada masyarakat.

Menutup keterangannya, Ahmad Murtado mengajak seluruh elemen mahasiswa dan pemuda untuk menjaga suasana tetap kondusif serta mengutamakan persatuan. Sanarkisme menegaskan bahwa sikap kritis dan keberanian menyampaikan aspirasi tetap penting dalam kehidupan demokrasi, namun harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab, kedamaian, dan kepentingan masyarakat. (RA)

Exit mobile version